Terik Dingin

Terik Dingin,
Aneh rasanya merasakan terik yang dingin, satu sisi yang gamblang dan satu sisi lainnya yang tersirat. Sekali lagi, ini hanya kata yang muncul begitu saja atas apa yang terasa tadi pagi. Setengah pikiranku menuju keramaian yang mengatur untuk sebuah hajatan besar lusa pagi. Setengah lainnya dari pikiranku terbaring dibawah panas yang dibayangi suasana dingin dari sikap dan tatapannya. Teringat lagi mulai sekitar 72 jam yang lalu, suasana dinginmu mulai cair walau hanya berupa surel yang cukup manis bagiku.


Tersadar lagi ketika dia menata matanya seperti biasa mengatakan apa, aku hanya melihat dengan mataku tertuju pada pikiran hingga seperti orang dengan dua pupil di matanya. Melihat suasana yang aku sendiri terlalu bodoh untuk menyikapinya. Aku duduk menjauh dengan angan mendekat. Waktu yang membuat dingin ini bertambah, terpecah ketika dia mengambil pembantu merahnya. Ini yang ku maksud dengan Terik Dingin, pertanyaan yang mudah 'kemana kau' terjawab dengan lantang nya tak peduli itu candaan atau apa tetapi sikapnya pergi lalu berkata dengan muka tak menatap dan dingin rasanya, itu yang menjadikan pikiran ini serasa memiliki vertigo. 
Lalu lalang paras dan sikap baiknya masih terus mengitari mata dan pikiranku, mungkin mulai sadar apa yang menyebabkan 'Masokis' itu masih ada sampai saat ini.
Sampai Jumpa di coretan lain.

Komentar